Kehidupan adalah seperti RODA

Sabtu, 10 September 2011

GARIS WEBER


Garis  Weber adalah sebuah khayal pembatas antara dunia flora dan fauna di paparan sahul dan di bagian lebih barat Indonesia. garis ini membujur dari utara ke selatan antara kepulauan Maluku dan Papua serta antara Nusa Tenggara Timur dengan Australia. Garis ini dicetuskan oleh Max Carl Wilhelm Weber atau Max Wilhelm Carl Weber (lahir di Bonn, 5 Desember 1852 – meninggal di Berbeek, 7 Februari 1937 pada umur 84 tahun) adalah seorang ilmuwan ahli ilmu hewan (zoologis) dan biogeografi berkebangsaan Jerman-Belanda.
Weber secara khusus tertarik dengan kedalaman laut di selat Lombok, yaitu selat yang memisahkan antara Pulau Bali dengan Pulau Lombok, dimana sebelumnya Wallace menyatakan bahwa selat antara Pulau Bali dan Pulau Lombok menjadi tanda pemisah bagi fauna yang bercirikan Asia dan fauna yang bercirikan Australia. Tetapi penemuan Weber mengindikasikan bahwa kedalaman laut di Selat Lombok hanya sekitar 312 m yang berarti selat Selat Lombok tidak begitu dalam. Sehingga demikian setelah ditelaah lebih dalam lagi, terutama kondisi fauna di kepulauan Indonesia Timur khususnya di Celebes dan Maluku, menurut Weber, garis pemisah yang kuat antara fauna Asia dan Australia tidaklah ada, akan tetapi semakin menuju ke arah timur dari kepulauan nusantara, maka fauna bercirikan Asia semakin berkurang, dan sebaliknya, fauna yang bercirikan Australia semakin banyak.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Weber ini oleh sebagian peneliti dianggap telah memindahkan garis Wallace lebih ke arah timur yang mana kemudian garis ini dinamakan dengan “Garis Weber”, meski Weber sendiri tidak begitu menyetujui garis imajiner pemisah sebagaimana garis imajiner Wallace. Garis imajiner Weber dipopulerkan oleh Paul Pelseneer di tahun 1904.
Dalam pandangan modern secara umum dapat diterima bahwa antara garis Wallace dan garis Weber merupakan zona transisi yang disebut “Wallacea”. Ilmuwan dapat memberikan gambaran bahwa garis Wallace antara Borneo dan Celebes merupakan ujung dari lempengan benua Asia, sedangkan garis Weber antara Celebes dan Kepulauan Maluku mencerminkan keseimbangan fauna antara fauna yang bercirikan Asia dengan Australia. Sekembalinya Weber dari penjelajahan di Hindia Timur, ia menerbitkan hasil penelitiannya dalam suatu publikasi ilmiah yang berjudul “Zoologische Ergebnisse einer Reise in Niederländisch Ost-Indien”.
Secara umum,titik utama penelitian Weber adalah tentang biologi kelautan yang difokuskan pada jalur migrasi invertebrate laut dan ikan-ikan pelagis (yang menghuni lapisan laut menengah dan atas). Dalam melakukan penelitia, ia bersama teman-temannya menemukan cukup banyak ikan-ikan dan hewan laut jenis baru, contohnya seperti kerang lentera (filum Brachiopoda), yang ditemukan di beberapa kepualauan di bagian timur nusantara seperti di daerah Banda, Ambon, Seram, Kei, Sulawesi, Sulu dan Selayar. Sedangkan menurut Tomascik (1997), ekspedisi Siboga di nusantara berhasil menemukan sebanyak 70 spesies dan 27 genera karang ahermatypic, termasuk 3000 spesies sponge (rumput laut). Selain itu peta batimetri (peta konfigurasi dasar laut) yang pertama untuk nusantara dihasilkan pula dari ekspedisi ini.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar